image1 image2 image3

HELLO I'M. ADRIYUS|WELCOME TO MY PERSONAL WEB|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|KONSULTAN PENGEMBANGAN DESA

Hajatan Politik


2019 hajatan politik lima tahunan yang akan dihadapi oleh segenap masyarakat Indonesia baik sebagai peserta pemilu maupun sebagai partisipan dalam pemilu, sebagai bangsa yang besar dengan latar belakang yang berbeda menjadikan keterwakilan dari setiap kalangan yang merepresentasikan kelompoknya untuk berada di pemerintahan sangat memungkinkan.

Kabupaten Bengkalis sebagai Kabupaten terkaya nomor dua di Indonesia dengan hasil migas dan perkebunannya menempati posisi kedua dibawah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan hasil tambangnya, tantangan kekayaan alam kian menjadi momok yang menakutkan, kekayaan nasional misalnya tidak berbanding lurus terhadap tingkat kesejahteraan, jika ditolak ukurkan kepada tingginya tingkat ABPN dengan jumlah pembangunan memang secara signifikan menjadi nilai plus, namun secara jantan patut diakui adalah kesenjangan sosial masih terasa dan terbukti dari pemerataan pembangunan yang belum terjadi. Lambatnya proses pembangunan disebabkan defisit anggaran juga tidak dipungkiri sehingga memperlambat bahkan pekerjaan yang dilakukan swasta sifatnya hanya setengah hati.

Proses legislasi di legislatif menentukan kebijakan pembangunan jangka panjang, menengah dan pendek dengan pengaruh yang sangat besar dan akan di eksekusi oleh beberapa satuan kerja kedinasan yang ada di Provinsi atau Kabupaten, sebagai wujud dari perpanjang tangan pemerintah pusat yang mendesentralisasikan kebijakan (kecuali kebijakan strategis nasional) maka jajaran Pemerintah Daerah sangat punya “kuku” dalam memainkan peranan, namun yang terjadi belakangan adalah lambatnya proses pencairan DBH (Dana Bagi Hasil) oleh Pusat hingga mengakibatkan penundaan pembangunan dan proses keuangan yang ada di Daerah, apakah ini desentralisasi rasa sentralisasi?

Kembali kepada Kabupaten Bengkalis, keseriusan Legislatif dan Eksekutif sangat diuji dengan meningkatkan keseriusan pembangunan, Kabupaten Terkaya tidak lagi primadona, melainkan pengelolaan yang berkelanjutan dan menyentuh dilapisan masyarakat dibutuhkan, tidak lagi dibutuhkan birokrasi yang bertele-tele sok ekslusif pejabat negara yang melamakan proses pengurusan administrasi masyarakat, jika bisa singkat dan cepat kenapa diperlambat?

Pembangunan memang menjadi sentuhan kepada masyarakat secara menyeluruh namun ada sentuhan langsung yang dirasakan adalah baiknya citra birokrasi kita dalam mengelola administrasi kependudukan. Buang ke laut “uang rokok”, “uang transport”, “calo”, “pelicin” dan sebagainya dalam kata “tolong” masyarakat yang sedang susah payah jauh datang kekantor camat dan Pemda untuk mengurus beberapa kertas yang tuan “kepala induk angkang” tanda tangani, itu lebih menyentuh di hatinya.

Anggota legislatif adalah representatifnya rakyat, bukan mengekslusifkan diri dari rakyat menjaga jarak bahkan tak acuh kepada kepentingan rakyat, memang cost-politic mencekik setiap calon anggota dewan, salah siapa? Sama halnya kepada bertanya pada rumput yang bergoyang antara pemberi dan penerima sama-sama mau dan diuntungkan. Apakah rumput bergoyang bisa menjawab?

Corak layanan publik cerminan dari pimpinan, jikapun pimpinan sudah memberikan layanan terbaik bukan berarti bawahan memiliki ciri yang sama, peran siapa yang dibutuhkan dalam hal ini? Adalah kelompok supra-pemerintahan yang memiliki kepedulian yang tinggi dalam pembangunan negeri. Serius membangun negeri tidak lagi mengekslusifkan diri karena tuan adalah representatif dari kami.

Share this:

CONVERSATION