Kau adalah anugerah yang datang menghapiri kala harapan tak
sesuai keinginan, dengan membawa angin segar yang hampa dipermukaan. Semula
acuh terhadap apa yang semestinya menjadi kewajiban sebagai manusia, kau datang
bagaikan panggilan kedua dari panggilan kewajiban itu.
Marilah datang kecewa, hampiri senantiasa agar panggilan
itu tak lagi acuh belaka, melainkan hal yang ditunggu-tunggu untuk mengadu.
Tempat memanggil itu tak lagi tempat gang berlalu-lalang melainkan tempat yang
nyaman untuk bertenang.
Sesuatu dan seseorang yang telah menciptakan kekecewaan,
terimakasih. Berkat kecewa durasi tengadah tangan semakin bertambah dan
berkurangnya berkeluh kesah. Ruang luas ini menjadi lampiasan kecewa, telapak
kaki yang kokoh ini menjadi roda dan pundak yang gagah ini menjadi penopang.
Kecewa, jangan menggertak seolah akan menghentikan langkah
ini, jangan menguji nyali yang sudah banyak berdinamika ini, jangan mengukur
tetesan air mata kesedihan, karena kesemuanya itulah kekuatan yang sudah didaur
ulang.
Mari kita syukuri kekecewaan ini, karena itu adalah fosil
jutaan tahun yang bisa dijadikan energi terbarukan untuk menanjak puncak.
Jarak adalah ukuran nominal yang dapat dihitung dengan
menggunakan bilangan, jangan hiraukan. Selagi tujuan mati hanyalah kepada yang
menghidupkan maka jarak itu dekat antara hidup dan mati. Bepergian untuk
mendapatkan, kembali untuk menerapkan adalah bonus dari ruangan yang menjadi
lampiasan kekecewaan.
Berikan lebih banyak lagi kecewa, agar bisa belajar menjadi
lebih baik adalah manfaat dari kekecewaan yang pernah dialami, serta durasi
tengadah tangan dan sujudlah yang akan memperkokohnya.

CONVERSATION