SENJA BERPAMIT, MENTARI MENERBIT.
Siklus alam memberikan tanda bahwa hukum sebab akibat telah terjadi, silih berganti, patah tumbuh, rasa pasang surut dan sebagainya yang merupakan kesemua timbal balik yang alam telah berikan, sebagai makhluk hidup yang berada pada bentangan alam secara harfiah telah memberikan sentuhan bahwa kita juga bagian dari alam yang merupakan makhluk ciptaan yang maha kuasa.
Coretan dan serakan kata ini mulai lagi terukir, setelah berdiam akhirnya ada secercah harapan Cahaya yang mulai menerangi hingga ketikan, abjad dan angka mulai disusun untuk dikonsumsi sebagaimana mestinya. Buah fikir yang hanya berkecambuk hilir mudik menjadi ada dorongan untuk segera terukir Dalam sebuah kisah yang semuanya bisa dimanafaatkan dan diminati.
Senja sepatutnya berpamit untuk menghantarkan kita pulang, melepaskan semua asa, hilangnya harapan dan kita akan berada Dalam kegelapan malam, hampa tiada kata, sunyi sepi, relung hati yang akan kosong. Karena kepergian senja Dalam terbenamnya diufuk timur mengisyaratkan selesai.
Namun senja
mengkamunflase, Ia datang menjelaskan bahwa dengan tata surya yang sama dan
meyakinkan bahwa senja yang pergi petang ini adalah “Aku yang kau tunggu esok
pagi berupa Mentari, bukan?”
Ia begitu rumit difahami, dengan hanya menolehkan wajah kearahnya yakin bahwa ini adalah sumber Cahaya yang sama diharapkan untuk menerangi hari-hari sang pengukir, petualang untuk segera pulang karena mengejar senja yang sudah berpamit itu aka ada Mentari yang akan datang dengan tata surya yang sama menemuinya silih berganti.
Selamat datang Kembali
asa, yang lama terpendam memandang pamit akan pulang segera datang, yakinkan
diri, siklus alam itu benar ada nyatanya. Setiap kepergian akan ada kedatangan,
bahkan setiap kematian akan ada abadi lain Dalam kehidupan kedepan.


CONVERSATION