“Apa yang kita buat sekarang tidak
dibalas seketika melainkan suatu ketika” adalah ungkapan semangatku dengan
melihat semangat kawan-kawan yang pernah berjuang bersama dalam kontestasi
politik beberapa masa lalu, dengan bercucuran keringat dan hidangan seadanya
untuk melepas dahaga. Menanam tidak menumbuhkan hasil dengan spontanitas,
secangkir kopi juga demikian tidak memberikan kesan dengan srumput pertama,
kedua bahkan ketiga melainkan seketika mau beranjak pulang untuk segera
menuntaskan tegukan terakhir didalam gelas.
Silaturrahmi dirajut untuk memperluas
rezeki dan memperpanjang umur, selebihnya adalah hiasan cerita nostalgia bahkan
masa depan, bak gayung bersambut sahutan cerita demi cerita dengan pengalaman
masing-masing telah melarutkan gula dan malam. Curahan hati dengan kondisi
sebelumnya adalah lampiasan kisah yang patut untuk saling berbagi agar kelak
bisa menjadi buku yang tak tertulis dipelajari.
Tetasan hujan mulai menampakkan
wujudnya beramai-ramai untuk menjadi deras karena jarak yang dekat dengan nekat
untuk menerobos tapi hujan tetaplah air yang persentase kandungan airnya
terserah mau apa saja tafsirannya ada yang bilang 90% kenangan dan 10 % air; 50
% air, 50 % udara; 90 % air bumi, 10 % air mata dan lain sebagainya, yang
namanya air tentu membasahi.
Seseorang tak bisa kita nilai dari
lembaran pertama dan kedua saja melainkan beberapa lembaran hidup yang terus
digoresi tintanya sesuai warna dan kata yang akan menjadi acuan dan jalan
hidupnya sendiri, kita bisa belajar dari kegagalan bukan berarti mempelajari
kegagalan untuk menjadi gagal, berbeda kita mempelajari 1+1=2 agar mengetahui
penjumlahan.
Mempelajari kegagalan adalah
bertujuan untuk mempersiapkan diri karena manusia terdiri dari dua langkah yang
terkadang baik dan terkadang buruk yang sudah sesuai nasib takdir tentukan (takdir
bisa dihindari dan tidak bisa dihindari) sehingga dengan pelajaran dan pengalaman
bisa menjadi acuan langkah yang harus tetap kokoh berdiri diatas kaki sendiri. Contoh
kegagalan masing-masing sudah pernah mengalami, ada yang sekarang sukses dengan
kacamata orang lain, ada yang gagal dengan kacamata orang lain. Sedangkan sudut
pandang sendiri tidak pernah digunakan untuk melihat gagal atau sukseskah hidup
sekarang? Karena sudut pandang adalah perspektif jauh dari mata kita yang orang
lain nilai.
Silaturrahmi tidak semata soal siapa,
dimana dan apa yang kita temui tapi belajar yang tiada henti bukan hanya dari
suksesnya akan tetapi dari gagalnya.

CONVERSATION