Petualangan telapak kaki seorang pejuang tidak pernah mengetahui teka-taki alam, hanya bisa menikmati dari kasat mata dan rasa. Betapa pedulinya para pecinta alam, setiap serakan limbah manusia yang berceceran dengan gegas di pungut, begitulah sebagian manusia mulia pada alam untuk menjaganya. Tak luput, teriakkan lantang juga diserukan oleh aktivis lungkungan kepada penjarah keseimbangan alam, pembabatan, pencemaran, mengotori ekosistem yang jutaan hajat hidup orang banyak bergantung disana.
Lantas mengapa Ia tetap menggeliat dari senyapnya yang memanjakan mata atas keindahannya? Padahal siklus sudah sedemikian rupa menata agar tetap seimbang, ombak berayun-ayun bersama angin sepoi ditepian, di hutan alunan dedaunan begitu merdu menyambut langkah seorang petualang, gemerisik tanah dari pijakan kaki yang mendengungkan suara untuk tetap meninggalkan kesan bahwa ada tujuan kedepan yang akan dituju oleh setiap manusia namun jangan melupakan jalan yang ditempuh, hadirlah jejak sebagai bukti.
Sebagai partisipan dari bagian alam, makhluk yang berakal, budi dan pekerti tentu harus lebih pandai menyesuaikan dan saling peduli pada kaum kita yang tertimpa bencana. Uluran tangan, usapan air mata serta senyum sapa menyambut sisa hidupnya jauh lebih penting dari pada menanyakan bagaimana kronologi terjadinya.
Alam adalah ciptaan jauh hari sebelum ada kita sudah ada, karena semakin hari perlu penyesuain bak manusia yang selalu menyesuaikan kehendak hidupnya pada alam, maka kita harus tetap tegar, sabar dan tawaqal pada Pemilik semua ciptaan yang ada di dunia beserta isinya ini.

CONVERSATION