Tahun ini menjadi ajang adu kuat
dalam menentukan pemimpin negeri yang berjuluk bumi melayu, mengemukakan
program dan tebar muka sana-sini menjadi pemandangan pokok sehari-hari, koalisi
silang-saling duduk sana-sini dalam menentukan finalisasi posisi dan porsi yang
akan diberi.
Tahun politik dinegeri ini adalah
dentuman lima tahunan sekali terjadi, gegap gempita para penikmat kuasa
menghampiri massa yang sudah lama tidak bersua, menampakkan muka menyambung
silaturrahmi katanya. Sah-sah saja dalam peranan politik dijalankan, sebagai
sosialisasi dalam memberikan tawaran dan menawarkan diri kepada khalayak
menjadi suatu keharusan dalam politik demokrasi yang bukan politik monarki,
kesemua jabatan akan diberi asal keturunan darah dimiliki.
Ruang publik seakan menjadi media
obrolan politik nan asyik, warung kopi mulai dari politisi bahkan
politisi-politisian yang memberikan pandangan, menyemarakkan pesta demokrasi
dalam beragumtasi seolah ini hanya permainan dan seni bagaimana mendapatkan
keuntungan dengan meraup suara dan mendapatkan kedudukan.
Selera masayarakat diuji dalam
kontestasi pelaksanaan yang katanya dari, untuk dan oleh rakyat ini. Penyedia selera
harus banyak menghidangkan dengan dinamis sesuai dengan konstituen yang akan
didatangi dengan mengedepankan asas kepentingan umum dari pada kepentingan
pribadi yang bahkan kadang harus melepaskan ego pribadi demi kepentingan
khalayak banyak.
Warna-warni simbol berayun-ayun
sesuai dengan musim yang sedang sekarang kita lalui, manakar kekuatan
menghadapi 2019 menjadi prioritas karena kedudukan kepala negeri ini ditentukan
dari coblosan paku rakyat dalam bilik suara di kertas suara; warna, nama, gaya
bahkan harga dalam suatu pilihan menjadi hal yang sangat berpengaruh.
Politik ini seolah bagaimana
mewujudkan kehendak mendapatkan harapan banyak orang untuk memperelok nasib
negeri, jangan dijadikan ajang adu kuasa dengan kekuasaan dan meraup keuntungan
golongan, hingga rakyat yang menjadi tuan pada demokrasi ini terabaikan.
Adriyus Mardi

CONVERSATION