Menunggu keberangkatan kapal di pelabuhan Bintan-Batam, sempat singgah di penjual makanan khas daerah pesisir Kepulauan Riau tersebut, tampak seorang Ibu paruh baya mengipaskan kipasnya di pemanggang yang tak lain itu adalah otak-otak, makanan khas melayu yang dikemas dalam daun kelapa dengan isian olahan ikan dan bumbu lain yang menyesuaikan selera penjual untuk pangsa pasar tertentu.
Barangkali kipasan angin yang mengenai bungkusan daun kelapa hingga menghasilkan kepulan asap disertai aroma menggoda otak-otaknya, namun sebagai mata pencaharian sehari-hari pemenuhan kebutuhan ekonomilah yang menjadi prioritas utama dari penjual otak-otak yang ada disepanjang jembatan Pelabuhan.
Penjual tidak hanya mengayunkan kipasnya agar aroma dan kematangan bisa maksimal, setiap ayunannya mengisyaratkan pejalan kaki menyaksikan dan singgah untuk membeli, dalam hatinya berkata “ini kipas penuh harapan, singgahlah Ncik dan Tuan/ Puan..” dalam hatinya, setiap pedagang kita tampak tampil menyuguhkan dengan diam saja jualannya, dalam hati selalu berkecambuk apakah laku atau tidak. Didalam otak terus skeptis, ini apakah ada yang meminati atau tidak?
Pejuang nafkah
yang berada setiap jalanan lalu-lalang orang, senantiasalah semangat, berikan
rasa dan cinta pada setiap usahanya, karena penjual sejatinya sebagai “QUEEN” dalam
catur yang bisa melakukan dan bergerak disegala penjuru, lebih bergengsi
dibandingkan Raja Sebagai Pembeli, hanya selangkah bisa menetukan sikap, membeli
atau tidak.


CONVERSATION