Pejuang Ditinggalkan Harapan
Layaknya
sekarang nasibku, bukan pengibaratan dari berbagai kasus empirik akan tetapi
perumpamaan dalam peperangan. Terlepas dari kerajaan mana yang akan dibela dan
benteng mana yang akan di gempur serta leher siapapun yang akan dipenggal oleh
ksatria ini yang terpenting adalah berjuang untuk hidup dan kehidupannya.
Beberapa
kali melintasi medan perang, menjadi semangat memacu penuh dengan harapan, agar
sepulangnya dari misi ini akan bersua dengan orang yang akan menjadi harapan
masa depan, bagaikan menabuh genderang perang dari kejauhan menambah spirit
dalam menghadapi musuh-musuh. Pesan gagak tak selancar Blackberry Messengger atau Medsos dan media komunikasi lainya
seperti sekarang, kadang kala ada kabar berita bahkan tanpa ada sama sekali
berita dari medan perang, bisa saja gagak pembawa pesan dipanah musuh agar bala
tentara tak datang sebanyak mungkin. Namun pedangku akan ku ayunkan tanpa
melihat kebelakang ada tambahan pasukan atau tidak, hanyalah ada dibelakang
rumah tempat kembali membangun harapan bersama. Gagak tak akan hendak anak
panah menancap jantungnya, ksatria pun tak bermaksud mengabaikan pesan dan
kadang kala mesti terhenti sejenak dengan riuhnya medan perang penuh perjuangan
ini. Helaan nafas penat dan mengelap peluh bahkan darah menetes tak henti dari
perjuangan ini.
Gagak
tentu akan membawa pesan timbal balik, namanya kabar burung bahkan terbawa
dalam mimpi tak enak hati rasanya, jika harapan yang akan kita datangi kelak
sepulang kemenangan ini memilih yang lain dari tujuan semula. Tak enak hati,
sampai sejenak termenung apakah benar ini gagak?
Penuh
keraguan di medan perang ini, apakah akan aku tancapkan pedang ini ke musuh
atau ke jantungku sendiri, agar aku tak bisa pulang lagi karena harapan telah
pergi dan tak akan ada lagi untuk dibawa kembali pulang.
Balai
Pungut, 00.42am. 14/06/15

CONVERSATION