Curahan hati biaya hidup
Dengan berbagai pertimbangan sisa
lembaran kertas bermata uang Rupiah tersebut seakan berbolak balik memutar
fikiran “mau diapakan ini” agar tetap bertahan dan dikeluarkan sedikit-sedikit
saja.
Sebenarnya sama saja, mau banyak dan
sedikit tetaplah menjadi biaya hidup. Biaya untuk menghidupi diriku di rantau
ini. Lembaran-lembaran bahkan recehpun begitu berarti dikala susah begini,
mungkin kesususahan akan mengingat hal kecil bahkan “receh” dengan pandangan
sepele terhadapnya akan sangat berarti.
Kalkulasi pengeluaran sesuai dengan
kebutuhan lengkap primer dan skundernya, antara lapar perut dan lapar mata
menjadi berbagai variabel yang patut dipertimbangkan secara matang.
Gambaran estimasi biaya hidup banyak
dan pasca-banyak uang setiap harinya (dengan pengeluaran pasti) setiap hari :
Sarapan “lotek ajo” saja menggunakan
uang belasan ribu rupiah, teh manis, lotek+telor rebus dan beberapa gorengan
sekitar Rp. 15.000,-
Sementara kalau pasca-banyak uang Rp.
15.000,- bisa digunakan membeli sekotak teh celup dan gula dan tahan digunakan
untuk sarapan dan nge-teh selama seminggu lebih.
Makan siang, belasan ribu bahkan
sampai puluhan ribu, dengan menggunakan penghematan pasca-banyak uang bisa menjadi
2(dua) kali makan dalam sehari semalam.
Dengan sekali makan malam diperkiran
diperkirakan Rp. 15.000- Rp 20.000, maka sekali makan saja akan bisa menjadi
dua kali makan kalau dihemat, diperkirakan saja harga terendah makan siang/
malam dengan harga Rp. 15.000 bisa dibagi dua dengan harga ampera Rp. 7.000.
Makan malam dengan jumlah yang sama
dengan makan siang pada saat banyak uang, bisa digunakan untuk besok sehari
semalam ketika pasca-banyak uang.
Berarti diperkirakan bisa hemat
100%-200% biaya hidup dengan asumsi pengeluaran sehari-hari biaya
hidup(konsumsi)

CONVERSATION