Dibawah keteduhan pohon mangga meneduhkan
fikiran panasku bahwa ada suara masuk dan menaruh harap lebih akan mengubah
nasibnya, yang keseharian waktu belakangan acap kali mendengar keluh kesah dan
harapan dari berbagai macam bentuk karakter orang. “Aku mengaharapkan A sampai Z
terhadapmu”, harapan yang datang dan tak lupa penutup “jika suatu ketika sudah
berada disana, jangan lupa !”.
Seolah ini bagaikan kepentingan individual nan ego, ketika aku
masih belum mampu mewujudkan keinginan tersebut dalam kehidupan sehari-hari
pada diriku sendiri, kesal marah dalam hati namun harus berpura-pura senyum
kita mampu mewujudknnya dalam kebersamaan, memang bisa namun siapa yang tahu
kita mampu?
Sebelum menjadi pembicara yang baik hal yang tak kalah penting
adalah menjadi pendengar terbaik dari pembicaraan orang lain. Seolah senada
darisetiap sudut-sudut tepian ingin begini-begitu dengan egonya masing-masing
ada yang di datangi dan ada yang mendatangi.
Kecil, mudah dan bisa jika mau itulah harapan mereka untuk
diwujudkan tanggapanku singkat secara seketika. Jika sudah berada di atas sana,
akan senang tanpa resiko seolah tak ada badai bahkan angin pun tak ada hanya
murni udara segar yang di dapat, jangan lupa. Aku sadar di keteduhan ini
bersama beberapa orang mengadukan nasib anak dan kelurganya yang kita anggap
ego tersebut adalah bagian dari masyarakat, mereka senada, seirama dan senasib
mengadukan harapanya pada orang yang akan berada di atas suatu saat nanti.

CONVERSATION