Secarik lembaran yang berisi lusinan kata usang dinantikan terletak ditelapak tangan puan pemilik hati, berdebar ingin membuka lembaran dan jika bisa kata demi kata akan dieja, penuh dengan seksama dibaca tak sehurufpun ingin terlampau. Sang pemesan pesan meminta dengan hati yang lunak, agar ada kata cinta tersurat didalamnya karena itu yang ingin disampaikan sang pengirim surat kepada puan penerima.
Ribuan untaian kata manis sudah tersusun dikepala, beberapa saat jeda ingin menuangkan kedalam goresan tinta namun apadaya, selang tak seberapa lama susunan mulai retak dan rapuh, jari jemari terasa kaku, pemesan pesan sudah mulai sayup-sayup dari tatapan dan mulai jauh dari permukaan.
Namun bayang-bayang hadir bak merekonstruksi bangunan yang kokoh menyusun ulang untaian kata itu, masih ingat dibenak tentang kisah yang hendak disampaikan karena menguatkan bukan lagi ingatan, tetapi perasan dan perkataan hati.
Perjalanan ini akan terus berlanjut, boleh menoleh kebelakang tanpa menghentikan langkah, karena tujuan akan berada didepan hingga akan menemukan persinggahan.
Pesan bukan salah alamat, tetapi belum menerima pemesan yang sesuai harapan, mungkin saja penundaan surat ini menjadi jeda memperelok kata dan niat pada-Nya.

CONVERSATION