Sebuah ungkapan kecil baik tersirat
maupun tidak dari alam dan kutipan tetua serta sahabat J
Berayun-ayun
dibawah pokok yang tak Ku kenal apa jenisnya, dikala siang menjelang terik
muncul dari langit, seolah matahari tertahan sinarnya dari beberapa pokok
tanaman yang menjadi tempat naungan buayaian itu berada serta dibelakang ada
sebatang pokok kelapa yang sesekali aku menoleh keatasnya manakala ada buah
yang jatuh dan membahayakan diri berada disana, tapi sangat pas letak papan
panjang yang sedemekian rupa dibuat oleh Abangku untuk tempat beristirahat
sekejap dengan kenyamanan tanpa menghiraukan lagi gangguan pepohonan yang
membahayakan diri.
Ayun
ayun dan berayun manakala tak bisa lagi tertahan apa yang akan menjai buah
fikir yang kubawa dari Kota tempatku menimba ilmu, pendidikan tinggi masih
menjadi suatu kebanggaan dan kesuksesan bagi seorang orang tua dan anaklah yang
memegang amanah agar terwujud hal tersebut.
Chevy puck up ada
pemandangan sebelah kiriku, berwarna merah maron nan sudah pudar dan beberapa
bagian yang sudah kropos dahulu dibeli semasa tahun 90-an menjadi kebanggan
keluarga baik ingin berpergian maupun digunakan untuk keperluan di kebun.
Beberapa masa sudah dilalui, terbukti dengan menurunya permukaan tanah
ditetepian tiang rumah dan papan-papan rumah pun sudah menunjukan rentanya
meski polesan cat menutupinya dengan indah namun secara kasat sudah mulai lapuk
dimakan rayap.
Pohon
nan rindang di depan rumah juga menyumbangkan kesejukan dan dedaunan yang
menjadi pekerjaan halaman rumah untuk disapu beberapa hari sekali agar tumpukan
daun tersebut tidak menjadi sampah. Pokok manggis tersebut semasa kecil menjadi
tempat rebutan ingin memanjatnya sema kecilku ketika buahnya sudah mulai masak,
namun ayunanku mengabaikan hal tersebut sejenak mengingat semasa kecilku berada
diatas sana, betapa tingginya ternyata pokok yang saat memanjatnya pakai
rebutan dan buah-buah manggis kemudian dijatuhkan, betapa tingginya harapanku
dulu dan betapa rendahnya diriku sekarang dari pokok buah manggis yang sidah
rindang sedari dulu masa kecilku.
Ayunanku
mengabaikan jatuhnya beberapa buah manggis dari atas dan seolah menjadi “sajadah”
pengingat masa lalu dan tempatku berdo’a agar dikemudian hari mampu merubah apa
yang sudah mulai usang tampak dimata sekarang menjadi lebih baik lagi nanti, ya
Aku sudah melakukanya, dalam hati dan dalam tulisan ini. Nyata bagiku,
tersenyum optimis melangkah mewujudkannya itu.
Balapungut, 22
Desember 2014

CONVERSATION